Manuskrip Kitab Raja Niti

KHAZANAH kebudayaan Lampung bagaikan mutiara terpendam di kampung halamannya. Setiap menggali, makin tertantang untuk menemukan mutiara terindah yang masih tersembunyi. Mulai dari adat istiadat, kesenian, sejarah, sampai kitab adat yang sangat banyak jumlahnya. Salah satunya adalah kitab Kuntara Raja Niti.

Kitab Kuntara Raja Niti merupakan kitab adat yang menjadi rujukan bagi adat istiadat orang Lampung. Kitab ini digunakan hampir tiap-tiap subsuku Lampung, baik Pepadun maupun Pesisir. Di masing-masing kebuaian (keturunan) dari subsuku tersebut pun mengakui kalau Kuntara Raja Niti adalah kitab rujukan adat Lampung.

Sayangnya, tidak semua punyimbang (pemangku adat) menyimpan manuskrip kitab tersebut. Apalagi masyarakat Lampung kebanyakan. Karena kekayaan peninggalan adat, baik yang berupa benda maupun tulisan biasanya berada di kediaman pemangku adat dari setiap kebuaian. Jika di tempat pemangku adat tidak ada, kecil kemungkinan akan didapat di tempat lain.

Sebagian para punyimbang di daerah Kotaagung mengakui kalau yang dijadikan rujukan adat istiadat mereka adalah kitab Kuntara Raja Niti, tapi mereka tidak memiliki manuskripnya. Konon manuskrip kitab tersebut telah terbakar di daerah muasal mereka, yaitu Liwa. Mereka menerima peraturan adat istiadat secara turun temurun dari pemangku adat dan tua-tua sebelumnya. Mereka menurunkan kepada generasi berikutnya pun secara lisan pula.

Sedangkan untuk daerah Kurungan Nyawa, adat istiadat mereka, baik tata cara kehidupan sehari-hari maupun acara seremonial merujuk pada kitab Kuntara Raja Niti yang sudah mengalami banyak revisi sesuai dengan tuntutan zaman. Revisi ini dilakukan oleh para pemangku adat demi keberlangsungan adat itu sendiri. Sehingga tidak menyusahkan masyarakat adat sebagai para pelaku adat. Kitab Kuntara Raja Niti yang ada di sana sudah berupa draf peraturan adat yang di ketik dan difotokopi yang sudah mengalami perubahan dan penyesuaian melalui musyawarah-musyawarah adat. Sedangkan manuskripnya tidak ada lagi.

Untuk daerah Krui yang mempunyai 16 marga, para punyimbang juga mengakui kalau Kuntara Raja Niti adalah kitab adat yang berlaku di sana. Tapi hingga kini para punyimbang pun tidak tahu keberadaannya. Adat istiadat yang dipakai selama ini ditularkan melalui lisan secara turun-temurun pula. Selain Kuntara Raja Niti, di Pesisir Krui juga adat istiadatnya berdasarkan Kitab Simbur Cahya yang dipakai masyarakat adat Sumatera bagian Selatan. Para punyimbang di Krui juga tidak tahu keberadaan kitab Simbur Cahya.

Lalu, daerah Pubian Telusuku, menggunakan kitab Ketaro Berajo Sako. Kitab tersebut dialihaksarakan sekaligus diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh H.A. Rifai Wahid (almarhum). Semasa hidupnya, penerjemah mengatakan kitab tersebut juga merujuk kepada Kuntara Raja Niti. Sedang manuskrip Kuntara Raja Niti bisa didapat di kediaman Hasan Basri (alm.), yang bergelar Raden Imba atau secara adat disebut Dalom Kusuma Ratu. Ia merupakan keturunan Ratu Darah Putih, asal muasal dari Raden Intan II. Kediamannya di Desa Kuripan, Penengahan, Lampung Selatan. Manuskrip tersebut bernama lengkap kitab Kuntara Raja Niti dan Jugul Muda. Ditulis sekitar abad ke-17--18. Ini bisa dilihat dari jenis tulisan yang digunakan.

Meski menjadi kitab rujukan adat, manuskrip ini sekarang lebih mirip dengan benda kuno yang dikeramatkan. Karena lebih banyak disimpan daripada di buka untuk dikaji. Kitab yang bersampul cokelat lusuh, tersimpan pada sebuah kotak khusus yang tidak sembarang orang bisa membukanya. Kitab itu terdiri dari dua bagian, bagian pertama ditulis dengan aksara Lampung gaya abad 17 (huruf-hurufnya lebih tidur dari aksara Lampung yang digunakan sekarang). Satu bagian lagi ditulis dengan huruf Arab gundul. Sedang bahasa yang digunakan pada seluruh teks adalah bahasa Jawa pertengahan dengan logat Banten. Masing-masing bagian memuat keseluruhan isi dari kitab Kuntara Raja Niti. Jadi, bagian yang satu dialihaksarakan pada bagian yang lain.

Isi manuskrip tersebut sebenarnya bukan hanya masalah tata cara adat secara seremonial, seperti upacara pernikahan, kematian dll. tapi kitab tersebut memuat peraturan-peraturan kemasyarakatan atau yang lebih tepat disebut perundang-undangan. Sebagaimana disebutkan dalam manuskrip tersebut, bahwa kitab Kuntara Raja Niti dan Jugul Muda adalah kitab undang-undang yang berlaku di tiga wilayah, yaitu Majapahit, Padjadjaran, dan Lampung. Sebagai kitab undang-undang atau dasar hukum kemasyarakatan, kitab tersebut ditulis dengan sistematis.

Setiap pembahasan diatur dalam bab-bab. Bab I (pada kitab terjemahan terdapat pada halaman 25), membahas tentang kiyas. Kiyas adalah hal yang mesti pada hukum, yang menyangkut tiga persoalan yaitu 1. Kuntara, 2. Raja Niti, 3. Jugul Muda. Selanjutnya pada kitab tersebut diterangkan, di antara raja-raja yang mempunyai tiga kebijakan itu adalah Prabu Sasmata dari Majapahit, Raja Pakuan Sandikara dari Pajajaran dan Raja Angklangkara dari Lampung.

Bab II memuat sejarah Raja Majapahit dan keagungannya. Dari bab ini bisa simpulkan kitab ini sangat terpengaruh dengan kebesaran Kerajaan Majapahit.

Bab III menyebutkan penjelasan tiga pokok hukum di antara prinsip-prinsip hukum yang ada dalam Kuntara Raja Niti, yaitu igama, dirgama dan karinah. Igama adalah yang dihukumkan, berarti sesuatu yang nyata dan kasatmata, bisa diakui keberadaan dan kebenarannya oleh semua orang. Dirgama itu hati nurani yaitu hukum-hukum yang ada pada kitab Kuntara Raja Niti sesuai dengan hati nurani. Karinah berkaitan dengan perbuatan yang dilakukan. Dengan ketentuan tiga pokok hukum ini, diterangkan bahwa hukum-hukum yang ada bisa diogolongkan; hukum yang bersifat nyata itu kuntara, hukum yang sesuai dengan hati nurani disebut raja niti, sedangkan hukum yang yang berhubungan dengan sebab akibat suatu perbuatan disebut jugul muda.

Bab IV, V, dan VI membahas seputar kaidah hukum yang ada pada Bab III. Produk hukum atau bab yang berisi tentang aturan-aturan secara detail termuat dari Bab VIII sampai Bab XVII. Pada Bab VIII, diterangkan tentang hukum-hukum suami-istri. Bab IX membahas tentang peraturan jual beli. Pada Bab X menerangkan tentang tanah. Bab XI membahas tentang utang. Bab XII tentang gadai dan upah. Bab XIII berisi tata cara bertamu dan menginap. Bab XIV berisi tentang larangan mengungkit-ungkit persoalan. Bab XV membicarakan tentang perjanjian.

Bab XVI tentang talak, sedangkan Bab XVII membahas tentang utang piutang. Kitab tersebut secara perinci mengatur tata cara kemasyarakatan yang termuat dalam pasal-pasal. Dalam pasal-pasal juga diatur tata cara berperahu dan menggunakan air, bahkan sampai tentang cara seorang laki-laki bertamu ke rumah perempuan ketika suaminya tidak ada di rumah. Tiap-tiap pasal tidak hanya memuat peraturan, juga hukuman yang melanggar peraturan tersebut.

Dari isi kitab Kuntara Raja Niti dapat disimpulkan bahwa masyarakat Lampung, sebelum adanya undang-undang Belanda, telah memiliki undang-undang yang secara lengkap mengatur kemasyarakat. Dan kitab Kuntara Raja Niti bukan hanya kitab yang mengatur acara seremonial seperti dipahami sebagian orang, melainkan kitab yang mengatur segala segi kehidupan.

» Baca Selengkapnya

Logo Lampung Tengah Terbaru (Warna)

Logo Lampung Tengah Terbaru (Warna)
Lambang daerah merupakan simbol rasa persatuan dan kesatuan masyarakat di Kabupaten Lampung Tengah sebagai tempat bermukim, bernaung dan berkarya bagi penghuninya yang heterogen baik segi agama, asal usul, seni, budaya dan adat istiadat untuk mencapai kemakmuran dan kesejahteraan masyarakat dengan menjunjung tinggi nilai adat dan budaya masyarakat berdasarkan Pancasila.
Lambang daerah kabupaten Lampung Tengah berbentuk segi lima dengan warna dasar hijau yang didalamnya terdapat gambar Bendera Merah Putih yang terdapat tulisan Lampung Tengah, Empat Payung Agung (berwarna putih, kuning, merah dan hitam), Kursi Pepadun bermotif hewan dan tumbuhan, Pita Putih bertuliskan jurai siwo, Padi 17 butir dan Kapas 8 buah.

Makna Lambang Daerah berdasarkan elemennya:

1. Perisai Segi Lima
Melambangkan alat pertahanan dalam mempertahankan cita-cita dan perjuangan serta Pancasila sebagai dasar Negara Republik Indonesia. Selain melambangkan pancasila, segilima juga memaknakan lima prinsip masyarakat Lampung yaitu Piil Pesengiri, Sakai Sambayan, Nemui Nyimah, Nengah Nyapur dan Bejuluk Beadek.

2. Bendera Merah Putih
Memaknakan Kabupaten Lampung Tengah adalah bagian tak terpisahkan dari Wilayah Kesatuan Republik Indonesia

3. Empat Payung Agung
Memaknakan lambang kehormatan, pengayoman, dan budaya masyarakat Lampung Tengah

4. Kursi Pepadun
Memaknakan kehormatan dalam adat dan lambang kedaulatan rakyat yang menjadi hak setiap warga.

5. Pita Putih bertuliskan Jurai Siwo
Memaknakan identitas kebudayaan masyarakat Lampung Tengah yang terdiri dari sembilan marga.

6. Padi 17 butir dan Kapas 8 buah
Memaknakan kemakmuran dan semangat mengisi kemerdekaan 17 Agustus 1945.

Makna lambang daerah berdasarkan warna yang terdapat didalamnya:

Merah
Keberanian, Keperwiraan dan Patriotisme

Kuning
Keagungan, Kekuasaan dan Kejayaan

Putih
Kesucian dan Kebersihan Jiwa

Hijau
Kesuburan dan Kedamaian

Hitam
Kekuatan dan Keabadian

» Baca Selengkapnya

Kamus dan Transliterasi Bahasa Lampung

Kamus dan Transliterasi Bahasa Lampung
SEBUAH cita-cita besar disuguhkan Iwan Nurdaya-Djafar di halaman ini dalam esai berjudul Menggagas Kamus Besar Bahasa Lampung (Lampung Post, 31 Desember 2010). Secara komprehensif Iwan membedah satu per satu kamus bahasa Lampung yang (pernah) ada.

Saya hanya ingin menyebut ulang dan sedikit menambahkan beberapa kamus Lampung yang sudah terbit. Berdasarkan penelusuran pustaka, kamus bahasa Lampung yang pertama disusun M. Noeh, Haris Fadilah gl P. Balik Jamon. 1979. Kamus Umum Bahasa Lampung-Indonesia. (Bandar Lampung: Universitas Lampung). Lalu berturut-turut

1. Hilman Hadikusuma. 1994. Kamus Bahasa Lampung. Bandung: Mandar Maju.

2. Fauzi Fattah dkk. 1998. Kamus Bahasa Lampung: Indonesia-Lampung. Bandar Lampung: Gunung Pesagi.

3. Fauzi Fattah dkk. 1998. Kamus Bahasa Lampung: Lampung-Indonesia. Bandar Lampung: Gunung Pesagi, 1998.

4. Farida Ariyani dkk. 1999. Kamus Bahasa Indonesia-Lampung Dialek A. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

5. Junaiyah H.M. 2001. Kamus bahasa Lampung-Indonesia. Jakarta: Pusat Bahasa dan Balai Pustaka.

6. Admi Syarief. 2008. Kamus Lengkap Bahasa Lampung-Indonesia dan Indonesia-Lampung. Bandar Lampung: Lembaga Penelitian Universitas Lampung.

7. Iskandar Muharom. tanpa tahun. Belajar Mudah Kamus Bahasa Lampung. Tanpa kota: Buana Cipta.

Saya sepakat dengan Iwan Nurdaya yang mengatakan betapa penting keberadaan kamus bagi sebuah bahasa, tidak terkecuali bahasa Lampung. Karena itu, bagaimanapun ulun Lampung memang harus berterima kasih kepada para penulis kamus tersebut.

Saya tidak hendak membahas satu per satu kelebihan dan kekurangan kamus-kamus bahasa Lampung tersebut, saya hanya ingin mengemukakan beberapa masalah terkait kamus dan praktek penulisan aksara di dalam masyarakat Lampung.

Saya ingin mengutip sebuah sajak berjudul Pagi Ga karya Udo Z. Karzi:

pagi ga, kundang
aga minjak jak kedugokmu
bingi juga maseh mesurok ditinggal bulan

pedom, pedom do luwot, kundang
lagi wat masani buhanipi
tentang pattun nyanyianni surga

Cara penulisan puisi (teks) berbahasa Lampung model ini—mengutip Asarpin—telah membuat "kegaduhan" di kalangan penutur bahasa Lampung. Lampung, begitu kata sebagian pihak, tidak mengenal huruf r. Tapi, huruf gh atau kh. Maka, untuk menuliskan sajak di atas, huruf r harus diganti kh atau gh.

Benarkah demikian? William Marsden dalam buku Sejarah Sumatra terbitan Komunitas Bambu, 2008 hlm. 190, menyebutkan susunan alfabet Lampung, yaitu ka ga nga pa ba ma ta da na cha ja nya ya a la ra sa wa ha (19 huruf). Pendapat Marsden ini dikutip pula oleh James T. Collins dalam buku karyanya Bahasa Sankskerta dan Bahasa Melayu (2009) hlm. 68.

Lalu, Moehamad Noeh dalam buku Pelajaran Membaca dan Menulis Huruf Lampung (Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Lampung, 1971) hlm. 4 menyebutkan banyak huruf kuno Lampung—disebut huruf Basaja karena kalau huruf itu berdiri sendiri dia mengandung bunyi a—ada 19 buah. Banyak huruf tulisan sekarang ada 19 buah ditambah dengan huruf gha jadi 20 buah. Urutan huruf Lampung adalah ka ga nga pa ba ma ta da na ca ja nya ya a la ra sa wa ha gha.

Alfabet Lampung mencantumkan ra (r) sebagai huruf ke-16. Jadi, agak mengherankan juga kalau dikatakan bahasa Lampung tidak mengenal huruf r. Penggantian huruf r dalam aksara Lampung menjadi gh atau kh (tambahan huruf ke-20 dalam abjad Lampung) juga membuat saya jadi bertanya-tanya.

Kita lihat alfabet huruf Latin Indonesia adalah a b c d e f g h i j k l m n o p q r s t u v w x y z. Ada juga gabungan konsonan kh, ng, ny, dan sy serta diftong ai, au, dan oi.

Kita bisa membandingkan transliterasi (penyalinan dengan penggantian huruf) dari aksara Arab yang berjumlah 28 buah ke huruf Latin secara alfabetik dari alif sampai ya—sesuai kesepakatan para linguis—adalah (a), (b), (t), (ts), (j), (h), (kh), (d), (dz), (r), (z), (s), (sy), (sh), (dh), (th), (zh), ('), (gh), (f), (q), (k), (l), (m), (n), (w), (h), ('), dan (y).

Membingungkan. Yang jelas, hingga saat ini ada terdapat tiga cara menuliskan huruf /r/ trill, yaitu r, kh, atau gh. Masalahnya, samakah bunyi huruf gh dalam aksara Lampung dengan huruf gh dalam huruf Arab? Samakah bunyi huruf kh dengan konsonan kh dalam bahasa Indonesia, huruf kh dalam huruf Arab, dan huruf kh dalam bahasa Lampung?

Satu hal lagi, terkait dengan varian bahasa Lampung. Kata "Lampung" saja bisa ditulis dengan "Lappung", "Leppung", dan "Lampung". Terjemahan orang dalam bahasa Lampung bisa ditulis dengan variasi "jamma", "jemmo", dan "jelma".

Persoalan ini perlu pengkajian lebih dalam sebelum menyusun kamus besar bahasa Lampung (KBBL).

» Baca Selengkapnya